Glosarium
Glosarium Istilah Inti
Istilah yang berulang di seluruh tulisan dan buku di situs ini, dijelaskan seringkas mungkin tanpa kehilangan maknanya.
A
- Aluamah
- Varian Jawa dari Lawwamah (Arab: al-lawwāmah). Dalam Sedulur Papat klasik: Tanah/Hitam — nafsu kerakusan, perut, insting biologis. Dalam buku ini disebut konsisten sebagai Lawwamah dengan pemetaan yang berbeda. → lihat Lawwamah.
- Ashram
- Tempat pengasingan spiritual — dalam konteks buku ini: metafora untuk sikap lari dari hiruk-pikuk dunia demi keselamatan atau ketenangan diri sendiri. Semar memilih among di tengah daripada ashram.
B
E
- Eling
- Kesadaran untuk kembali hadir dan mengingat pusat diri serta arah kepada Tuhan.
F
- Fana'
- Meredanya keakuan dan keterikatan pada ego dalam kesadaran kepada Tuhan.
H
- Hening Sirr
- Tahap tanpa hitungan dan tanpa suara; hanya makna, rasa, dan kehadiran di kedalaman batin.
J
- Jagad Cilik
- Dunia kecil dalam diri manusia: tubuh, pikiran, rasa, kehendak, dan kesadarannya.
- Jagad Gede
- Alam yang lebih luas; semesta tempat Jagad Cilik hidup dan berhubungan.
K
- Kasyaf
- Tersingkapnya pemahaman atau persepsi batin. Pengalaman ini tetap perlu diuji melalui waktu, akhlak, dan kenyataan.
- Katarsis
- Pelepasan, penyucian, atau pelampiasan emosi yang terpendam — sering tiba setelah laku batin yang dalam.
- Kelir
- Layar putih dalam pertunjukan wayang kulit — tempat bayangan wayang dimainkan. Dalam buku ini: metafora panggung kehidupan tempat dalang (kesadaran) memainkan lakon.
L
- LĀ–ILĀ–HA–ILLALLĀH
- Pilihan lafaz bagi Muslim dalam Nafas Roso. LĀ–ILĀ–HA dipetakan sebagai rangkaian bunyi pada tarikan dari perut ke dada lalu ubun-ubun; ILLALLĀH menyertai hembusan. Makna hanya dilekatkan pada kalimat lengkap lā ilāha illallāh: tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.
- Lawwamah
- Jiwa yang mencela — dalam tasawuf: an-nafs al-lawwāmah, dorongan batin yang mengkritik diri setelah berbuat. Dalam buku ini: insting bertahan (Air/Putih) yang mengatur lapar, simpan, rasa aman. `Aluamah` adalah varian Jawa dari akar kata yang sama, yang dalam Sedulur Papat klasik menempati elemen Tanah/Hitam (kerakusan). Buku ini memetakan ulang Lawwamah ke Air/Putih — lihat catatan di section Empat Wajah Nafsu.
M
- Manunggaling Kawula Gusti
- Ungkapan mistik tentang kedekatan hamba dengan Tuhan; bukan penyamaan manusia dengan Tuhan, melainkan luluhnya kehendak ego dalam penghambaan.
- Menekung
- Duduk hening dalam doa dan perhatian batin yang mendalam.
- Musyahadah
- Kesadaran menyaksikan tanda-tanda kehadiran Ilahi dengan hati yang jernih.
N
- Nafas Roso
- Latihan napas sadar 4/4/6 yang memadukan penyelarasan, hening, pelepasan, dan laku keseharian. Metode ini berakar pada Pernapasan Tauhid, lalu disajikan secara universal.
- Ngeli(topo ngeli)
- Mengalir. Keadaan di puncak laku ketika disiplin tidak lagi perlu diusahakan, karena sudah tertanam — seperti gembala yang tak lagi perlu menuntun, sebab ternaknya pulang sendiri ke kandang. Kandang itu suwung. Ngeli hanya sah kalau tahap-tahap sebelumnya sudah solid; melepas kendali sebelum itu bukan ngeli, melainkan pasrah lalai.
- Ngemong
- Mengasuh dengan kesadaran penuh — sikap batin yang membimbing, bukan menguasai, terhadap seluruh isi jagad cilik.
- Nglaras / Nglarasake
- Mengharmonisasi, menyelaraskan frekuensi batin secara sadar. Akar kata laras (laras gamelan) — tradisi Jawa tidak mengenal "setem" (setel radio modern), melainkan nglaras sebagai kerja batin untuk menyelaraskan roso dan kehendak dengan arah yang lurus. Bentuk transitif nglarasake berarti menyelaraskan sesuatu (napas, rasa, niat). Sinonim halus: ngelaras.
P
- Pancer
- Pusat kesadaran yang tidak sekadar mengikuti dorongan, tetapi mampu menyaksikan dan menentukan laku.
R
- Roso
- Kepekaan batin untuk merasakan makna secara langsung; bukan sekadar emosi atau pikiran.
- Roso Samar
- Tahap setelah kalibrasi ketika napas kembali alami dan doa atau dzikir menjadi sangat pelan selama 5–15 menit.
- Ruwat
- Laku simbolik untuk menandai pembersihan, pelepasan beban, dan pembaruan niat.
S
- Sanepo
- Ungkapan simbolik atau perumpamaan yang dibaca dengan rasa dan perenungan.
- Sangkan Paraning Dumadi
- Kesadaran tentang asal dan tujuan keberadaan: dari mana manusia datang dan ke mana ia kembali.
- Sedulur Papat Limo Pancer
- Peta simbolik Kejawen tentang empat saudara batin dan manusia sebagai pancer atau pusat yang mengasuh serta menyelaraskan.
- Sirr
- Rahasia batin; lapisan kesadaran paling hening tempat komunikasi dengan Yang Sumber terjadi tanpa kata. (Lihat: Hening Sirr)
- Suksma
- Jiwa atau roh halus yang menjadi inti kesadaran di balik tubuh dan pikiran.
- Sumeleh
- Berserah setelah berusaha dengan sungguh-sungguh, tanpa kehilangan tanggung jawab.
- Suwung
- Keheningan yang lapang ketika cerita ego mereda; bukan kehampaan tanpa makna.
T
W
Istilah-istilah ini dihimpun dari Nafas Batin: Semedi Jagad Ageng, yang bisa dibaca lengkap dan gratis di situs ini.