Guru Sabdo Roso
Sampul buku Kawruh Sangkan Paran

Suatu malam, di serambi rumah tua, seorang kakek yang sudah sampai di ujung ngelmunya mulai bercerita. Tentang dari mana manusia datang. Tentang roh, sukma, jiwa, dan empat saudara yang lahir bersama kita. Tentang laku yang mengembalikan kita ke asal: menyaksikan Gusti dalam napas, mengemong nafsu, bertirakat, belajar diam. Tentang guru sejati, mimpi, dan taman tempat para leluhur menunggu. Dan tentang bagaimana hidup menyala bagi sesama, sampai tiba saatnya pulang dengan indah. Untuk siapa pun, dari agama dan keyakinan apa pun. Setiap pembeli mendapat akses gratis ke grup belajar bersama ratusan sedulur lainnya; cara bergabung ada di halaman terakhir buku.

Penulis
Guru Sabdo Roso
Ukuran
14,5 × 20,5 cm, sampul keras, jilid jahit benang
Tebal
496 halaman
Terbitan
Cetakan pertama, November 2026
ISBN
Dalam proses

Pesan Buku Kawruh Sangkan Paran

Rp 199.000

Pre-order

Usahakan ikhtiar medis dulu: laku dalam buku ini berjalan seiring pengobatan dan pendampingan tenaga ahli, tidak menggantikannya.

Pesan WhatsApp terisi otomatis. Tinggal lengkapi nama, alamat, dan kode pos untuk menghitung ongkir. Info pengiriman · Syarat pemesanan

Isi buku

Disusun seperti perjalanan dalam 4 langkah. Boleh dibaca berurutan, atau masuk dari pintu yang paling Anda butuhkan.

  1. Bagian Satu · SangkanDari mana manusia datang. Tidak ada, lalu diadakan; dari cahaya ke rahim; roh, sukma, jiwa, dan sedulur papat.
  2. Bagian Dua · MulihMulai berlaku. Menyaksikan Gusti dalam napas, merdeka, merangkul diri, mengemong nafsu, tirakat, meneng, dan empat guru.
  3. Bagian Tiga · ParanJalan pulang. Kisah empat puluh malam, guru sejati, peta alam-alam, mimpi, rambu-rambu, dan taman penantian.
  4. Bagian Empat · DumadiHidup yang menyala. Jadilah garam, memayu hayuning bawana, lebur dening pangastuti, kembali ke pasar, dan kematian yang indah.

Sepatah Kata

Sedulur,

Buku ini tidak lahir dari meja tulis. Ia lahir dari ratusan malam berbincang: di siaran-siaran langsung yang sederhana, di grup-grup kecil, di pesan-pesan pendek dari orang yang sedang kebingungan di tengah malam. Dari wedaran-wedaran yang mengalir apa adanya itulah lembaran-lembaran ini dihimpun, dipilah, lalu dirangkai kembali menjadi satu perjalanan.

Saya tidak menuliskannya sebagai orang yang sudah selesai. Saya hanya teman seperjalanan yang kebetulan melangkah sedikit lebih dulu, dan yang masih terus belajar berjalan.

Isinya adalah ikhtiar merangkum kitab tanpa tulis: kawruh yang dipetik dari laku dan penyaksian, bukan dari hafalan. Ia tidak hadir untuk mengubah agamamu, apalagi menggantikannya. Ia hanya ingin menemanimu menempuh jalan pulang: mengenali dari mana engkau datang, ke mana engkau akan kembali, dan bagaimana hidup dengan sejati selama di perjalanan.

Rahayu.

Kediri, 2026 · Guru Sabdo Roso