Ada gambaran yang sering muncul di kepala banyak orang ketika mendengar kata “sesaji”: sepiring makanan yang diletakkan untuk menyuap sesuatu yang tidak kelihatan, supaya ia tidak marah dan tidak mengganggu. Gambaran ini begitu kuat sampai sesaji sering dianggap identik dengan takhayul yang harus ditinggalkan. Tapi gambaran itu terlalu sederhana, dan meninggalkannya begitu saja tanpa memahami akarnya berarti kehilangan sesuatu yang sebenarnya jauh lebih kaya dari sekadar suap.

Empat Jenis Sesaji yang Dikenal Orang Jawa

Catatan tentang kepercayaan Jawa dari awal abad ke-20 mencatat bahwa sesaji ternyata tidak tunggal — masyarakat Jawa mengenal setidaknya empat jenis sesaji, masing-masing dengan tujuan yang berbeda.

Yang pertama disebut Selamatan — sesaji yang diperuntukkan bagi Yang Kuasa, para rasul, wali, dewa-dewa, bidadari, kekuatan yang dihormati, hingga setan dan hantu, dengan tujuan menyenangkan mereka. Yang kedua Penulakan — sesaji sebagai sarana menolak pengaruh buruk: setan, makhluk mengerikan, hantu, roh jahat. Yang ketiga Wadima — sesaji yang dilakukan secara teratur kepada rasul, wali, bidadari, jin, kekuatan orang yang sudah meninggal, hantu yang baik, bahkan binatang dan tumbuhan. Yang keempat Sedekah — sesaji berupa makanan yang diberikan kepada para wali dan malaikat untuk keselamatan roh orang yang meninggal, juga untuk keselamatan penyelenggara acara beserta keluarga dan hartanya.

Cara menjalankannya pun berbeda. Selamatan dan penulakan biasanya terdiri dari makanan yang sudah ditentukan; pada penulakan, upacaranya disertai membakar kemenyan dan mengucap doa serta mantra penolak sebagai penangkal. Wadima dan sedekah lebih sederhana: cukup kembang yang ditempatkan di atas air dalam bejana, disertai kue dan makanan sekadarnya. Wadima secara khusus dipercaya diberikan kepada hantu, setan, dan roh yang dikenal agar mereka bertindak baik dan tidak mengganggu manusia — dilakukan di dalam rumah dengan membakar kemenyan dan menaburkan bunga, atau di tempat-tempat yang dianggap rawan seperti sumur, kamar mandi, dapur, dan pintu keluar-masuk.

Ada juga catatan tentang hari-hari tertentu yang dianggap istimewa untuk sesaji: Jumat Legi dipandang sebagai hari sesajian terbesar, ditujukan bagi semua roh baik maupun jahat serta arwah keluarga. Jumat Kliwon dipakai untuk sesaji di kuburan keluarga yang dihormati. Selasa Kliwon dianggap hari terbaik untuk memberi sesaji kepada leluhur. Jumat Paing dan Jumat Wage masing-masing dikaitkan dengan keselamatan kerbau dan sapi — hari yang disebut Gumbregan, sekaligus menjadi hari libur kerja bagi hewan ternak.

Catatan yang sama juga mencantumkan sisi yang lebih rumit: ada kebiasaan memberi sesaji kepada sosok-sosok tertentu dengan permintaan yang sangat spesifik — misalnya kepada Coblong bagi yang ingin cintanya berbalas, atau kepada sosok-sosok tertentu yang dipercaya membawa kekayaan. Bagian ini sengaja tidak saya sembunyikan, karena itu bagian jujur dari sejarah yang diwariskan — tapi bagian ini juga yang paling perlu dilihat dengan mata jernih, dan akan saya bahas lebih lanjut di bagian akhir tulisan ini.

Tiga Lensa: Kenapa Sesaji Terasa “Bekerja”

Ada wejangan pejalan yang membingkai ulang seluruh pertanyaan ini: sesaji iku dudu suap marang lelembut — sesaji iku undangan slamet supaya ati lan sesama teka ing rukun — sesaji bukan suap kepada lelembut; sesaji adalah undangan slamet agar hati dan sesama datang ke dalam kerukunan.

Lensa budaya menunjukkan bahwa sesaji, dalam tradisi Jawa, tidak pernah berdiri sendiri. Ia berada dalam kluster simbol yang lebih besar bersama bunga, kemenyan, dan air putih — bahasa komunitas untuk mengatakan: kita eling, kita rukun, kita memohon slamet, kita menghormati yang sudah mendahului. Slametan, yang sering disandingkan dengan kenduren dan nyadran, dalam titen budaya bertujuan memohon keselamatan, mendoakan arwah leluhur, merapatkan hubungan sesama, dan menjadi sarana sedekah. Yang sering hilang dari gambaran modern tentang sesaji adalah bagian yang justru paling penting: pembagian. Slametan yang hidup bukan diukur dari seberapa indah tumpengnya difoto, melainkan dari doa yang dipanjatkan bersama, makanan yang dibagikan, dan kerukunan yang benar-benar terasa di antara yang hadir.

Lensa mistik memberi ruang jujur bagi apa yang dialami banyak pejalan: menata sesaji sering terasa merapatkan niat, seolah dada punya sesuatu yang bisa “dipegang”. Sebagian merasakan semacam kehadiran, sebagian hanya merasakan ketenangan. Tapi sekali lagi, tidak semua rasa itu otomatis berarti ada yang gaib “memakan” sajian tersebut. Bisa jadi itu roso yang sedang rapat karena niat yang tulus, bisa juga proyeksi, bisa residu dari ritus itu sendiri. Ujian yang lebih jujur untuk mengenali mana yang sehat: setelah sesaji atau slametan, apakah seseorang pulang lebih rukun dan lebih dermawan — atau justru lebih takut dan lebih pelit, seolah sudah “membayar” sesuatu yang gaib dan berhak menagih balasannya?

Lensa hikmat pejalan meletakkan penjelasan yang lebih membumi tentang kenapa sesaji terasa “bekerja” bagi banyak orang. Bukan karena sepotong pisang atau tumpeng punya kekuatan magis yang berdiri sendiri. Yang sebenarnya terjadi: niat yang tadinya hanya ada di kepala menjadi diformalkan lewat gerak tubuh yang nyata; sedekah benar-benar terjadi karena makanan atau uang keluar dari genggaman; roso mengikat meja kecil itu pada sesuatu yang lebih besar; dan komunitas yang menyaksikan ikut menguatkan janji sosial yang sedang dibuat. Cabut niat dan roso dari sebuah sesaji, dan yang tersisa hanyalah hidangan basi. Cabut sedekahnya, dan yang tersisa hanyalah tontonan.

Bentuk tumpeng sendiri, yang mengerucut ke atas, sering dibaca oleh pejalan sebagai peta niat — cipta, rasa, dan karsa yang diarahkan menuju satu puncak. Yang membuat sebuah sesaji berubah dari sedekah menjadi sesuatu yang lain justru bukan bentuknya, melainkan niat di baliknya — soal ini dibahas lebih mendalam di Sedekah atau Utang? Niat yang Menentukan Nilai Sebuah Sajen.

Pandangan Guru Sabdo Roso

Empat jenis sesaji yang dicatat leluhur kita — selamatan, penulakan, wadima, sedekah — semuanya punya benang merah yang sama: niat baik yang diberi wujud. Saya menghormati keempatnya sebagai warisan, dan tidak akan menyuruh siapa pun berhenti menjalankannya kalau itu dilakukan dengan niat yang jernih.

Tapi bagian tentang sesaji kepada Coblong untuk cinta yang berbalas, atau kepada sosok tertentu untuk kekayaan cepat — di sinilah saya akan berhenti dan bicara jujur. Bukan karena bentuknya salah, tapi karena arah niatnya sudah bergeser dari memberi menjadi menagih, dan dalam kasus memaksa hati orang lain, dari memohon menjadi melanggar kehendak bebas sesama manusia. Sesaji semacam ini sudah keluar dari kerangka aslinya sebagai undangan rukun, dan berubah menjadi transaksi sepihak.

Saya tidak menghakimi orang-orang di masa lalu yang melakukannya — mereka hidup di zaman dan tekanan yang berbeda, dan keputusasaan adalah hal yang sangat manusiawi. Tapi bagi siapa pun yang membaca tulisan ini hari ini, saya ingin jujur soal batasnya: sesaji yang sehat adalah yang memberi tanpa menagih, yang merukunkan bukan yang memaksakan kehendak. Fungsi sosialnya sebagai perekat kerukunan dibahas lebih jauh di Slametan, Kenduren, dan Nyadran: Sesaji sebagai Perekat Sesama, dan kesalahpahaman tentang medium secara umum dibahas dari sisi lain di Dupa dalam Tradisi Jawa: Fungsi, Sejarah, dan Kenapa Asapnya Dinaikkan.

Yang penting dipegang sejak awal: menolak sesaji secara total sebagai takhayul primitif sama-sama kehilangan sesuatu dengan menerimanya secara mentah sebagai kewajiban yang menakutkan kalau dilewatkan. Di antara dua sikap itu ada ruang yang lebih jujur — memahami sesaji sebagai apa yang sebenarnya ia wariskan: niat baik yang diberi wujud, bukan suap kepada siapa pun, dan bukan pula alat untuk memaksa kehendak.