Ada orang yang membayangkan semedi harus dilakukan di tempat sunyi.
Duduk bersila. Mata terpejam. Napas diatur. Tidak berbicara. Tidak bergerak.
Cara seperti itu tentu memiliki tempatnya sendiri.
Namun bagi saya, pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah kita selesai duduk.
Apakah kejernihan yang kita temukan ketika hening masih ikut bersama kita ketika kembali makan, bekerja, berbicara, berkendara, dan menghadapi persoalan?
Sebab kehidupan tidak hanya berlangsung ketika kita sedang semedi.
Sebagian besar hidup justru berlangsung ketika kita melakukan hal-hal yang terlihat biasa.
Makan.
Mandi.
Bekerja.
Berkendara.
Berbicara dengan keluarga.
Membalas pesan.
Menunggu.
Marah.
Kecewa.
Mengambil keputusan.
Di ruang-ruang sederhana itulah kualitas batin sebenarnya terus diuji.
Ketika Tubuh Hadir, tetapi Diri Tidak Benar-Benar Hadir
Pernahkah kita sedang makan, tetapi pikiran masih berada di pekerjaan?
Sedang mandi, tetapi kepala sibuk mengulang persoalan kemarin?
Sedang berbicara dengan seseorang, tetapi tangan terus membuka telepon?
Atau sedang berkendara, tetapi hati masih membawa kemarahan dari rumah?
Tubuh kita berada di satu tempat.
Namun pikiran, rasa, dan perhatian berada di tempat lain.
Aktivitas tetap selesai.
Makanan habis.
Perjalanan sampai.
Pekerjaan selesai.
Tetapi ada sesuatu yang hilang:
kehadiran kita sendiri.
Jika berlangsung terus-menerus, hidup bisa berubah menjadi rangkaian aktivitas otomatis.
Bangun.
Bekerja.
Makan.
Tidur.
Kemudian mengulanginya kembali.
Bukan karena hidup kita kosong.
Tetapi karena kita terlalu sering menjalani sesuatu tanpa benar-benar berada di dalamnya.
Semedi sebagai Latihan, Bukan Pelarian dari Kehidupan
Semedi formal tetap mempunyai fungsi penting.
Duduk tenang memberi kesempatan kepada pikiran untuk mengendap.
Napas dapat kembali diperhatikan.
Tubuh diberi ruang untuk tenang.
Roso perlahan dapat diamati tanpa harus segera bereaksi.
Tetapi bagi saya, semedi tidak boleh berhenti sebagai pengalaman yang hanya terjadi ketika mata terpejam.
Kalau setelah duduk satu jam seseorang tetap mudah meledak ketika menghadapi persoalan kecil, berarti masih ada sesuatu yang perlu dilatih.
Kalau seseorang merasa sangat tenang ketika sendirian tetapi kehilangan kejernihan ketika berhadapan dengan orang lain, maka kehidupan sedang menunjukkan ruang belajarnya.
Karena itu saya melihat semedi memiliki dua sisi.
Semedi sebagai ruang latihan khusus.
Dan:
semedi yang turun menjadi cara menjalani kehidupan.
Yang kedua ini sering jauh lebih sulit.
Neng: Memberi Ruang Sebelum Bereaksi
Dalam laku Neng, kita belajar berhenti.
Bukan berhenti dari kehidupan.
Bukan pula memaksa pikiran menjadi kosong.
Neng adalah memberi sedikit ruang sebelum sebuah dorongan berubah menjadi tindakan.
Ketika menerima pesan yang membuat marah, jangan langsung membalas.
Ketika hendak makan dalam keadaan pikiran kacau, diam sebentar.
Ketika akan berangkat berkendara tetapi sedang tergesa-gesa, beri waktu beberapa detik.
Ketika ingin mengatakan sesuatu yang tajam, berhenti sejenak.
Kadang hanya lima atau sepuluh detik.
Tetapi ruang kecil itu sangat berharga.
Neng memberi jarak antara apa yang terjadi dan bagaimana kita memilih meresponsnya.
Tanpa ruang itu, kita mudah bergerak hanya berdasarkan kebiasaan.
Marah lalu membalas.
Takut lalu mundur.
Tersinggung lalu menyerang.
Ingin lalu mengambil.
Padahal tidak semua dorongan harus segera diikuti.
Ning: Menjernihkan Apa yang Sedang Terjadi
Setelah berhenti, kita mulai melihat.
Inilah Ning.
Ning bukan kemampuan mengetahui segala sesuatu.
Justru kejernihan sering dimulai ketika kita berani melihat keadaan diri apa adanya.
Apakah saya benar-benar marah kepada orang ini?
Atau sebenarnya saya sedang lelah?
Apakah saya benar-benar membutuhkan sesuatu?
Atau hanya sedang ingin diakui?
Apakah saya takut karena ada bahaya nyata?
Atau pikiran sedang menciptakan berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi?
Apakah saya ingin berbicara untuk menyelesaikan masalah?
Atau hanya ingin membuktikan bahwa saya benar?
Pertanyaan seperti ini sederhana.
Namun jawabannya tidak selalu nyaman.
Roso yang mulai jernih sering menunjukkan sesuatu yang sebelumnya tidak ingin kita lihat.
Kadang kejernihan bukan menemukan jawaban baru, tetapi berani melihat diri sendiri tanpa terlalu banyak pembelaan.
Inilah mengapa Ning membutuhkan Neng.
Air yang terus diaduk sulit memperlihatkan dasarnya.
Begitu pula batin.
Nung: Kejernihan Harus Menjadi Laku
Setelah melihat dengan lebih jernih, kita masuk kepada Nung.
Nung adalah keteguhan.
Kejernihan tidak cukup hanya dipahami.
Ia perlu turun menjadi cara bertindak.
Seseorang mungkin tahu bahwa kemarahan berlebihan tidak baik.
Tetapi pengetahuan itu baru menjadi laku ketika ia mampu menjaga ucapan saat marah.
Kita mungkin mengetahui bahwa tubuh perlu dirawat.
Tetapi itu baru menjadi laku ketika kita mulai memperhatikan bagaimana kita makan, beristirahat, dan memperlakukannya.
Kita mungkin berbicara tentang welas asih.
Tetapi ia baru menjadi laku ketika kita masih mampu melihat manusia di balik orang yang sedang berbeda pendapat dengan kita.
Di sinilah Nung bekerja.
Yang kita ketahui mulai diminta untuk menjadi sesuatu yang kita jalani.
Tidak perlu selalu besar.
Kadang bentuknya sangat sederhana:
“Saya akan makan dengan lebih sadar.”
“Saya akan berkendara tanpa menjadikan jalan sebagai tempat melampiaskan ego.”
“Saya akan menyelesaikan pekerjaan ini dengan tanggung jawab.”
“Saya akan bicara untuk memperbaiki keadaan, bukan hanya untuk memenangkan perdebatan.”
Nang: Kemenangan yang Tidak Selalu Memiliki Penonton
Kemudian ada Nang.
Nang sering diterjemahkan secara sederhana sebagai menang.
Tetapi kemenangan batin bukan tentang mengalahkan orang lain.
Nang justru muncul ketika kita mulai mampu mengemong bagian-bagian dalam diri yang sebelumnya mudah mengambil alih.
Ketika ingin membalas tetapi mampu menahan ucapan.
Ketika ingin berlebihan tetapi mampu merasa cukup.
Ketika takut tetapi masih mampu melihat keadaan dengan jernih.
Ketika mempunyai kesempatan untuk merendahkan orang lain tetapi memilih tidak melakukannya.
Ketika ego meminta untuk selalu dianggap benar tetapi kita mampu mendengar.
Tidak ada tepuk tangan untuk kemenangan seperti itu.
Orang lain bahkan mungkin tidak mengetahuinya.
Namun justru inilah kemenangan yang perlahan mengubah manusia dari dalam.
Nang bukan kemenangan atas dunia. Nang adalah saat kita tidak lagi selalu dikalahkan oleh diri sendiri.
Semedi Satu Menit Sebelum Makan
Laku ini tidak perlu dibuat rumit.
Ambil contoh sebelum makan.
Neng
Berhenti sekitar 10 detik.
Tidak perlu memejamkan mata.
Biarkan napas berjalan alami.
Ning
Perhatikan keadaan diri.
Apakah benar-benar lapar?
Apakah sedang terburu-buru?
Apakah sedang makan karena kebutuhan atau hanya karena dorongan?
Tidak perlu menghakimi.
Cukup sadari.
Nung
Hadirkan tujuan sederhana.
Saya makan untuk merawat tubuh dan menerima kecukupan yang tersedia hari ini.
Tidak perlu diucapkan keras.
Nang
Kemudian makan.
Dengan sedikit lebih sadar.
Tidak perlu sempurna.
Latihannya bukan menjadi manusia yang selalu penuh kesadaran.
Latihannya adalah mengingat kembali ketika kita mulai lupa.
Keseluruhannya bahkan dapat selesai kurang dari satu menit.
Sebelum Berkendara
Laku yang sama bisa dibawa ketika akan berkendara.
Sebelum kendaraan berjalan:
Neng.
Berhenti beberapa detik.
Ning.
Periksa keadaan diri.
Apakah mengantuk?
Sedang marah?
Tergesa-gesa?
Pikiran sedang penuh?
Nung.
Hadirkan tujuan sederhana:
Saya ingin sampai dengan selamat tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain.
Kemudian berjalan.
Dan justru ketika ada kendaraan memotong jalan, lampu merah terasa lama, atau seseorang membuat kita kesal, latihan sebenarnya dimulai.
Semedi tidak lagi berada di kamar.
Semedi sudah masuk ke jalan raya.
Sebelum Berbicara
Laku ini juga sangat penting sebelum berbicara.
Banyak persoalan dalam hubungan manusia bukan terjadi karena kita tidak memiliki pengetahuan.
Tetapi karena kita terlalu cepat mengucapkan sesuatu yang belum dijernihkan.
Sebelum berbicara ketika emosi sedang tinggi:
Neng — berhenti.
Ning — lihat apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Nung — ingat tujuan percakapan.
Nang — jangan biarkan ego menggunakan ucapan sebagai senjata.
Kadang satu tarikan napas tidak menyelesaikan seluruh masalah.
Tetapi satu tarikan napas dapat mencegah kita menciptakan masalah baru.
Sebelum Membuka Pintu Rumah
Ada satu latihan lain yang menurut saya sederhana tetapi penting.
Ketika pulang dari pekerjaan, sebelum masuk rumah, berhentilah beberapa saat.
Kita sering membawa banyak hal dari luar.
Tekanan pekerjaan.
Kekecewaan.
Masalah dengan orang lain.
Kemacetan.
Kelelahan.
Kemudian tanpa sadar semuanya ikut masuk ke rumah.
Orang yang tidak terlibat dalam persoalan kita akhirnya menerima dampaknya.
Sebelum membuka pintu:
Neng.
Diam sebentar.
Ning.
Sadari apa yang sedang dibawa.
Nung.
Ingat bahwa orang di dalam rumah bukan tempat melampiaskan beban.
Nang.
Masuklah dengan kesadaran bahwa kita sedang berpindah ruang dan peran.
Laku sering kali sesederhana itu.
Jangan Mengubahnya Menjadi Ritual Baru
Ada satu batas penting.
Praktik Neng, Ning, Nung, Nang seperti ini tidak perlu berubah menjadi kewajiban yang membuat seseorang justru cemas.
Tidak perlu berpikir:
“Saya tadi lupa Neng sebelum makan, berarti laku saya gagal.”
Bukan begitu.
Ini bukan aturan baru.
Bukan ritual yang harus dilakukan pada setiap aktivitas.
Bukan pula formula agar sesuatu yang kita inginkan pasti terjadi.
Tujuannya sederhana:
melatih kemampuan kembali hadir.
Kadang kita ingat.
Kadang kita lupa.
Ketika sadar bahwa kita lupa, saat itulah kita kembali.
Tidak perlu menghukum diri.
Tidak perlu membuat laku menjadi beban.
Bukan Afirmasi untuk Memaksa Hasil
Dalam kehidupan modern, kita banyak menemukan bentuk afirmasi yang berusaha meyakinkan diri bahwa sesuatu pasti akan terjadi.
Akan kaya.
Akan berhasil.
Akan mendapatkan sesuatu.
Saya memilih arah yang berbeda.
Bagi saya, laku bukan cara untuk memaksa kehidupan mengikuti keinginan kita.
Yang dapat kita tata pertama kali justru adalah cara kita menjalani kehidupan yang sedang diberikan kepada kita.
Bukan:
“Semua yang saya inginkan pasti datang.”
Tetapi:
“Apa pun yang saya hadapi hari ini, saya akan berusaha menjalaninya dengan jernih dan bertanggung jawab.”
Bukan mengejar bayangan masa depan.
Tetapi menghadirkan diri pada langkah yang sedang dijalani.
Dari Olah Roso Menuju Luhur ing Budi
Pada akhirnya, tujuan semedi bukan sekadar menjadi tenang.
Ketenangan adalah bagian dari perjalanan.
Namun laku perlu mempunyai buah.
Apakah setelah belajar hening kita menjadi lebih mampu menjaga ucapan?
Apakah setelah belajar roso kita menjadi lebih peka terhadap orang lain?
Apakah setelah belajar mengenali diri kita lebih mampu bertanggung jawab?
Apakah pengetahuan membuat kita semakin rendah hati?
Apakah ketika keinginan tidak terpenuhi kita masih mampu menjaga diri?
Di sinilah luhur ing budi menjadi penting.
Sebab kejernihan batin yang tidak pernah turun menjadi perilaku masih perlu diuji.
Semakin dalam seseorang masuk ke dalam dirinya, seharusnya semakin baik pula caranya hadir di tengah kehidupan.
Kehidupan Sehari-hari adalah Padepokan yang Tidak Pernah Tutup
Tidak semua orang dapat pergi ke tempat sunyi setiap hari.
Tidak semua orang mempunyai waktu satu jam untuk duduk semedi.
Tetapi hampir setiap orang mempunyai tiga puluh detik.
Sebelum makan.
Sebelum bekerja.
Sebelum berkendara.
Sebelum menjawab.
Sebelum mengambil keputusan.
Sebelum membuka pintu rumah.
Di situlah latihan dapat dimulai.
Kehidupan memberi kita ruang belajar hampir setiap saat.
Marah adalah ruang belajar.
Kecewa adalah ruang belajar.
Berhasil adalah ruang belajar.
Memiliki kuasa adalah ruang belajar.
Kehilangan adalah ruang belajar.
Mencintai seseorang juga ruang belajar.
Kehidupan sehari-hari adalah padepokan yang tidak pernah tutup.
Tidak perlu meninggalkan kehidupan untuk mencari kejernihan.
Yang kita perlukan adalah belajar membawa kejernihan kembali ke dalam kehidupan.
Neng, Ning, Nung, Nang sebagai Laku Harian
Jika ingin mengingatnya dengan sederhana:
Neng — berhenti.
Beri sedikit ruang sebelum bereaksi.
Ning — jernih.
Lihat apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Nung — teguh.
Hadirkan tujuan dan jalankan apa yang sudah dipahami.
Nang — menang.
Jangan biarkan diri terus-menerus dikuasai oleh dorongan yang membuat kita kehilangan kejernihan.
Tidak perlu panjang.
Tidak perlu diketahui orang lain.
Tidak perlu menjadi pertunjukan spiritual.
Tiga puluh detik.
Satu menit.
Kemudian lanjutkan kehidupan.
Karena laku yang baik tidak membuat kita menjauh dari kehidupan.
Ia justru membuat kita semakin hadir di dalamnya.
Penutup
Semedi tidak selalu harus duduk.
Kadang semedi adalah ketika seseorang mampu diam beberapa detik sebelum membalas ucapan yang menyakitkan.
Kadang ia hadir sebelum kita menyalakan kendaraan.
Kadang sebelum menyentuh makanan.
Kadang sebelum membuka pintu rumah.
Kadang sebelum mengambil keputusan yang dapat mengubah kehidupan.
Tidak ada yang melihat.
Tidak ada yang memberi tepuk tangan.
Namun dari ruang-ruang kecil semacam itulah seseorang perlahan belajar menjadi pengemong bagi dirinya sendiri.
Hening sebentar. Jernihkan roso. Teguhkan tujuan. Kemudian berjalanlah dengan sadar.
Mungkin hanya satu menit.
Tetapi satu menit yang benar-benar kita jalani terkadang lebih berharga daripada berjam-jam kehidupan yang berlalu tanpa kehadiran.
Laku Setelah Membaca
Catatan di bawah ini tersimpan di perangkatmu sendiri — tidak terkirim ke mana pun, tidak terbaca siapa pun.
