Ada orang yang mengatakan:

“Saya mengikuti rasa saya.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun ada pertanyaan yang jarang diajukan:

Rasa yang mana?

Apakah yang berbicara benar-benar kejernihan batin?

Atau kemarahan?

Ketakutan?

Keinginan?

Luka lama?

Ambisi?

Prasangka?

Atau sekadar pikiran yang sudah terlalu lama kita yakini?

Dalam perjalanan olah roso, pertanyaan seperti ini sangat penting.

Sebab bagi saya, roso sejati bukan berarti membenarkan semua yang kita rasakan.

Justru laku dimulai ketika kita belajar membedakan apa yang sedang bergerak di dalam diri.

Tidak semua yang terasa kuat adalah petunjuk. Tidak semua yang terasa nyaman adalah benar. Dan tidak semua yang terasa berat berarti harus dihindari.

Roso perlu dijernihkan.

Pembedaan ini dibahas lebih pelan dalam piwulang Roso Sejati — cara mengenali roso yang jernih di tengah emosi yang sedang ribut, tanpa menekan emosinya.

Rasa Ada, tetapi Belum Tentu Jernih

Manusia memiliki banyak lapisan pengalaman.

Kita berpikir.

Kita merasakan.

Kita menginginkan.

Kita takut.

Kita berharap.

Kita menyimpan ingatan.

Semua itu dapat muncul bersamaan.

Misalnya seseorang mendapat pesan yang tidak menyenangkan.

Dalam beberapa detik saja dapat muncul:

marah, takut ditolak, keinginan membalas, ingatan terhadap kejadian lama, prasangka tentang maksud orang lain, dan pikiran tentang apa yang harus dilakukan.

Semuanya terasa nyata.

Tetapi apakah semuanya harus diikuti?

Tentu tidak.

Inilah salah satu alasan mengapa saya tidak memahami roso sebagai sekadar perasaan sesaat.

Perasaan adalah bagian dari manusia.

Ia perlu didengar.

Tetapi ia juga perlu dikenali.

Kalau setiap dorongan disebut sebagai roso sejati, maka kita kehilangan kemampuan membedakan antara kejernihan dan reaksi.

Roso Sejati Tidak Berarti Menolak Emosi

Sebaliknya, menjernihkan roso juga bukan berarti kita harus menjadi manusia tanpa emosi.

Marah tetap dapat muncul.

Sedih tetap ada.

Takut tetap datang.

Keinginan tetap bergerak.

Kita bukan sedang berusaha menjadi batu.

Yang dipelajari adalah bagaimana mengemong apa yang muncul dalam diri tanpa langsung dikuasai olehnya.

Dalam kerangka laku yang saya ajarkan, bagian-bagian dalam diri tidak harus selalu dimusuhi.

Ada dorongan yang perlu diarahkan.

Ada keinginan yang perlu dibatasi.

Ada ketakutan yang perlu dipahami.

Ada amarah yang perlu diberi tempat agar tidak berubah menjadi tindakan yang merusak.

Pengemong bukan membunuh yang diemong. Pengemong mengenali, merawat, membatasi, dan menempatkan.

Dari sinilah olah roso menjadi laku.

Mengapa Roso Perlu Didahului Hening

Air yang terus diaduk sulit memperlihatkan dasarnya.

Demikian pula batin.

Ketika kita sedang sangat marah, penilaian kita mudah berubah.

Ketika sangat takut, kemungkinan kecil dapat terlihat seperti ancaman besar.

Ketika sangat menginginkan sesuatu, kita mudah menemukan pembenaran untuk mendapatkannya.

Karena itu dalam Neng, Ning, Nung, Nang, Neng hadir lebih dahulu.

Berhenti.

Tidak langsung mengambil kesimpulan.

Tidak langsung bertindak.

Tidak langsung menganggap semua yang muncul dari dalam sebagai kebenaran.

Setelah itu barulah Ning—kejernihan—mendapat ruang untuk tumbuh.

Roso sejati bagi saya tidak perlu tergesa-gesa.

Ia tidak takut diuji.

Ketika Perasaan Menyamar sebagai Petunjuk

Ada pengalaman yang mungkin pernah kita alami.

Kita tidak menyukai seseorang.

Lalu semua tindakannya terlihat salah.

Sebaliknya, ketika sangat menyukai seseorang, tanda bahaya yang sebenarnya jelas dapat kita abaikan.

Ini menunjukkan bahwa rasa manusia dapat dipengaruhi oleh banyak hal.

Karena itu saya berhati-hati ketika seseorang berkata:

“Saya merasa ini pasti benar.”

Perasaan dapat menjadi bahan pembacaan.

Tetapi kata “pasti” membutuhkan kehati-hatian.

Hal yang sama berlaku pada firasat.

Saya tidak menolak keberadaan firasat atau pengalaman batin.

Dalam pengalaman pribadi dan pembacaan tradisi, wilayah semacam itu memang memiliki tempat.

Namun pengalaman yang halus tetap perlu ditempatkan dengan adab.

Tidak semua firasat harus diikuti.

Tidak semua mimpi harus ditafsirkan.

Tidak semua pengalaman batin harus diumumkan sebagai petunjuk.

Semakin halus wilayah yang kita masuki, semakin besar pula kebutuhan terhadap kejernihan dan rendah hati.

Roso, Kejernihan, Pengujian, Buah

Untuk memudahkan, saya sering melihat perjalanan roso melalui empat tahap:

Roso

Sesuatu muncul dalam diri.

Kita merasa, menangkap, atau menyadari sesuatu.

Jangan langsung ditolak.

Tetapi juga jangan langsung dipercaya sepenuhnya.

Kejernihan

Berikan ruang.

Heningkan reaksi.

Lihat kembali tanpa terlalu banyak pembelaan terhadap diri sendiri.

Pengujian

Periksa.

Apakah bertentangan dengan kenyataan?

Apakah lahir dari ketakutan?

Apakah hanya memenuhi kepentingan ego?

Apakah setelah beberapa waktu masih terasa sama?

Apakah keputusan ini akan merugikan orang lain?

Buah

Lihat apa yang dihasilkan.

Apakah menghasilkan kejernihan?

Tanggung jawab?

Welas asih?

Ketenteraman?

Atau justru kekacauan, kebencian, kesombongan, dan keinginan menguasai?

Bagi saya, buah adalah salah satu pengujian paling penting dalam laku.

Roso yang Jernih Tidak Membutuhkan Banyak Pertunjukan

Ada kecenderungan ketika membicarakan perjalanan batin, perhatian mudah tertuju pada hal yang luar biasa.

Pengalaman gaib.

Firasat.

Penampakan.

Energi.

Kemampuan mengetahui sesuatu.

Saya tidak merasa perlu menolak semua itu.

Namun saya juga tidak menempatkannya sebagai ukuran utama.

Seseorang dapat memiliki pengalaman batin yang sangat banyak tetapi tetap sulit mengendalikan amarah.

Dapat berbicara tentang hal-hal halus tetapi masih mudah merendahkan orang lain.

Dapat menjalankan berbagai ritus tetapi tidak mampu menjaga ucapan.

Maka pertanyaannya bukan hanya:

“Apa yang pernah kamu lihat?”

Tetapi:

“Apa yang berubah dalam caramu hidup?”

Kedalaman roso seharusnya membuat manusia semakin mampu mengemong dirinya sendiri.

Antara Nur dan Nar dalam Kehidupan Batin

Dalam bahasa yang saya gunakan, saya sering membedakan arah nur dan nar.

Saya memahaminya sebagai cara membaca kualitas yang tumbuh dalam batin dan kehidupan.

Ketika seseorang semakin jernih, mampu mengendalikan diri, berwelas asih, bertanggung jawab, dan tidak mudah dikuasai kebencian, ada kualitas yang terasa menerangi.

Sebaliknya, ketika kemarahan, keserakahan, kebencian, iri, dan dorongan untuk menguasai terus dipelihara, hidup dapat terasa seperti terbakar dari dalam.

Kita bahkan tidak perlu menunggu kehidupan lain untuk memahami gambaran semacam ini.

Orang dapat memiliki banyak hal tetapi hidupnya tidak pernah tenang.

Sebaliknya, seseorang dapat hidup sederhana tetapi hatinya lebih lerem.

Karena itu perjalanan roso tidak saya arahkan untuk mengejar sensasi.

Arah utamanya adalah:

semakin terang cara melihat, semakin baik cara menjalani.

Apakah Roso Sejati Selalu Terasa Nyaman?

Tidak.

Ini penting.

Kadang kejernihan justru menunjukkan sesuatu yang tidak ingin kita lihat.

Kita mungkin sadar bahwa selama ini kita yang salah.

Kita mungkin perlu meminta maaf.

Kita mungkin harus meninggalkan kebiasaan yang menyenangkan tetapi merusak.

Kita mungkin perlu menerima bahwa sesuatu yang sangat diinginkan memang bukan milik kita.

Kalau ukuran kebenaran hanya “yang membuat saya nyaman”, kita dapat terjebak.

Roso yang jernih tidak selalu memanjakan ego.

Kadang ia justru mengajak kita bertumbuh melalui sesuatu yang tidak nyaman.

Laku Sederhana Ketika Rasa Sedang Keruh

Ketika sedang menghadapi persoalan, saya lebih menyukai praktik sederhana daripada buru-buru mencari tafsir yang tinggi.

Pertama: berhenti

Jangan langsung mengambil keputusan saat emosi sedang memuncak.

Beri sedikit ruang.

Kedua: kenali apa yang muncul

Sebutkan secara jujur.

“Saya sedang marah.”

“Saya takut.”

“Saya iri.”

“Saya ingin dianggap benar.”

Tidak perlu malu terhadap apa yang ditemukan.

Kita sedang belajar melihat.

Ketiga: pisahkan fakta dan tafsir

Apa yang benar-benar terjadi?

Dan apa yang hanya saya simpulkan?

Pertanyaan ini sangat sederhana tetapi sering menyelamatkan kita dari banyak kesalahan.

Keempat: lihat akibatnya

Jika dorongan ini saya ikuti, apa buahnya?

Apakah menyelesaikan?

Atau hanya memuaskan reaksi sesaat?

Kelima: beri waktu bila perlu

Tidak semua keputusan harus dibuat hari ini.

Ada hal yang menjadi jauh lebih jelas setelah batin tidak lagi bergejolak.

Roso dalam Kehidupan Sehari-hari

Olah roso tidak hanya dibutuhkan ketika sedang semedi.

Ia justru sangat berguna dalam perkara biasa.

Ketika anak membuat kesalahan.

Ketika pasangan berbicara tidak sesuai harapan.

Ketika mendapatkan kritik.

Ketika bisnis sedang sepi.

Ketika melihat keberhasilan orang lain.

Ketika menerima uang.

Ketika mempunyai kekuasaan.

Ketika seseorang mempercayakan rahasianya kepada kita.

Semua itu adalah laboratorium laku.

Di situlah kualitas roso diuji.

Benar Belum Tentu Pener

Kejernihan roso juga membuat kita belajar bahwa hidup tidak selalu selesai dengan pertanyaan benar atau salah.

Sesuatu dapat benar tetapi belum tentu pener untuk keadaan tertentu.

Ilmu dapat benar.

Nasihat dapat benar.

Ritual dapat memiliki dasar.

Tetapi apakah tepat diberikan kepada orang ini?

Pada fase ini?

Dalam keadaan seperti ini?

Di sinilah hubungan roso dengan peta Lima Ilmu menjadi penting.

Ilmu bukan hanya perkara banyaknya pengetahuan.

Tetapi juga kemampuan menempatkan pengetahuan dengan tepat.

Orang yang tahu banyak belum tentu mampu mengemong.

Pengemong membutuhkan kejernihan untuk mengetahui kapan berbicara, kapan diam, kapan memberi ruang, dan kapan memberi batas.

Luhur ing Budi sebagai Buah Olah Roso

Jika perjalanan roso semakin dalam, saya berharap buah akhirnya bukan semakin banyak cerita tentang diri sendiri.

Tetapi semakin baik budi.

Lebih mudah meminta maaf.

Lebih mampu mendengar.

Lebih bertanggung jawab atas keputusan.

Tidak mudah menggunakan ilmu untuk menakut-nakuti.

Tidak merasa lebih suci.

Tidak menjadikan kelemahan orang lain sebagai kesempatan untuk mengambil keuntungan.

Inilah mengapa luhur ing budi menjadi penting dalam arah Guru Sabdo Roso dan Nafas Batin.

Kedalaman tidak perlu banyak diumumkan.

Buahnya yang berbicara.

Roso yang jernih seharusnya membuat manusia semakin aman bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Tentang Mistik dan Hal yang Tidak Kasatmata

Saya tidak berpandangan bahwa perjalanan batin harus menolak seluruh wilayah mistik.

Ritus memiliki tempat.

Medium memiliki konteks.

Pengalaman yang tidak kasatmata juga dikenal dalam berbagai tradisi.

Dalam perjalanan pribadi saya, saya pun memiliki pengalaman yang membuat saya tidak dapat begitu saja mengatakan bahwa seluruh wilayah itu tidak ada.

Namun pengalaman tersebut tidak saya jadikan alasan untuk mengatakan bahwa semua orang harus mengalami hal yang sama.

Saya lebih memilih membawa perhatian kembali kepada sesuatu yang lebih mendasar:

bagaimana keadaan batin kita?

Sebab jika roso semakin jernih, banyak hal yang sebelumnya terlihat rumit dapat mulai dipahami dengan cara berbeda.

Bukan karena kita mengejar keajaiban.

Tetapi karena kita sedang belajar kembali mengenali diri.

Dan bila dalam perjalanan kemudian muncul pengalaman yang berada di luar kebiasaan indra kasar, tempatkan dengan rendah hati.

Tidak perlu dikejar.

Tidak perlu dipamerkan.

Tidak perlu dijadikan ukuran kesucian.

Menjadi Pengemong bagi Diri Sendiri

Perjalanan roso pada akhirnya membawa kita pada tugas yang sederhana tetapi tidak mudah:

mengemong diri.

Kita memiliki berbagai dorongan.

Kebutuhan.

Nafsu.

Ketakutan.

Ambisi.

Harapan.

Semuanya merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Tujuannya bukan selalu membunuhnya.

Tetapi mengenali dan menempatkan.

Amarah dapat mengingatkan bahwa ada batas yang dilanggar.

Tetapi amarah tidak harus menjadi kekerasan.

Keinginan dapat membuat manusia bergerak.

Tetapi keinginan tidak harus berubah menjadi keserakahan.

Rasa takut dapat melindungi.

Tetapi ia tidak harus mengambil seluruh kendali atas kehidupan.

Di sinilah pengemong bekerja.

Diri yang kuat bukan diri yang tidak mempunyai gejolak, melainkan diri yang mampu mengemong gejolaknya.

Roso Sejati Tidak Membuat Kita Berhenti Menguji

Ada satu sikap yang menurut saya perlu terus dipelihara.

Walaupun kita semakin mengenal diri, jangan merasa sudah tidak mungkin salah.

Kejernihan hari ini tetap perlu dijaga besok.

Keputusan yang baik kemarin tidak menjamin semua keputusan berikutnya akan benar.

Laku bukan sertifikat.

Laku adalah sesuatu yang terus dijalani.

Karena itu saya lebih nyaman melihat roso sejati bukan sebagai gelar pencapaian.

Ia adalah arah untuk terus kembali.

Ketika keruh, kembali jernih.

Ketika lupa, kembali eling.

Ketika ego mengambil alih, kembali mengemong.

Ketika jatuh, kembali berjalan.

Penutup

Roso sejati bukan sekadar perasaan.

Ia bukan pula pembenaran terhadap semua yang muncul dari dalam diri.

Roso perlu dikenali.

Dijernihkan.

Diuji.

Kemudian dilihat buahnya.

Kalau menghasilkan ketenteraman, tanggung jawab, welas asih, kejernihan, dan luhur ing budi, kita memiliki alasan untuk terus menjalaninya.

Kalau justru membuat kita semakin takut, sombong, mudah membenci, atau merasa lebih tinggi daripada manusia lain, mungkin ada sesuatu yang perlu diperiksa kembali.

Roso bukan untuk membuat kita merasa istimewa. Roso adalah jalan untuk membuat kita semakin mampu menjalani hidup dengan jernih.

Dan mungkin di sanalah perjalanan kembali kepada diri sebenarnya dimulai.

Bukan ketika kita menemukan sesuatu yang spektakuler.

Tetapi ketika kita mulai mampu membedakan:

mana suara kejernihan, dan mana suara diri yang masih meminta untuk diemong.

Laku Setelah Membaca

Catatan di bawah ini tersimpan di perangkatmu sendiri — tidak terkirim ke mana pun, tidak terbaca siapa pun.

Checklist pemahaman

Jurnal refleksi