Coba perhatikan berapa kali dalam sehari kita terburu-buru tanpa benar-benar tahu kenapa. Buru-buru menjawab pesan yang sebenarnya bisa ditunda satu jam. Buru-buru menghabiskan makan supaya bisa segera membuka layar lagi. Buru-buru menjawab pertanyaan orang lain sebelum benar-benar selesai mendengarkan pertanyaannya.
Ketergesaan ini begitu biasa sampai kita berhenti menganggapnya sebagai pilihan. Ia terasa seperti keadaan default hidup modern — sesuatu yang harus diterima, bukan sesuatu yang bisa dipertanyakan. Padahal kalau ditelusuri, sebagian besar ketergesaan itu tidak benar-benar dibutuhkan oleh situasinya. Ia dibutuhkan oleh kegelisahan kita sendiri.
Ada perbedaan penting antara cepat dan tergesa. Cepat adalah soal kecepatan bertindak; kadang memang perlu, misalnya saat benar-benar darurat. Tergesa adalah soal kegelisahan yang mendorong tindakan itu — perasaan bahwa kalau tidak segera dilakukan, sesuatu yang buruk akan terjadi, meski sering kali tidak jelas apa. Banyak dari kita hidup dalam kondisi tergesa yang konstan tanpa alasan yang jelas, hanya karena sudah terbiasa.
Laku yang pelan bukan berarti menjadi lambat dalam segala hal, atau menolak tenggat waktu dan tanggung jawab. Laku yang pelan adalah memberi jeda sebelum bereaksi — jeda yang cukup untuk bertanya, “apakah ketergesaan ini benar-benar dibutuhkan situasi ini, atau ini cuma kebiasaan lama yang jalan otomatis?”
Ini pertanyaan yang sederhana untuk ditulis, tapi tidak sederhana untuk dijalani, karena ketergesaan sudah begitu berakar sampai terasa seperti bagian dari diri sendiri. Butuh pengulangan, bukan sekali coba langsung berubah. Dan biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang mudah dilewatkan: menarik napas sejenak sebelum membalas pesan yang bikin kesal, meletakkan ponsel saat makan meski cuma lima belas menit, berjalan tanpa buru-buru dari satu ruangan ke ruangan lain meski tidak ada yang menunggu.
Tidak ada janji bahwa hidup jadi lebih mudah begitu ketergesaan ini dikurangi. Yang berubah lebih dulu biasanya bukan keadaan di luar, tapi cara kita hadir di dalamnya — dan itu, meski kecil, adalah awal yang jujur.