Ada masa ketika masalah manusia bukan karena kekurangan informasi.

Justru karena terlalu banyak hal masuk ke dalam pikiran pada waktu yang sama.

Berita datang tanpa henti.

Pesan terus berbunyi.

Pendapat orang berseliweran.

Keinginan tumbuh karena melihat kehidupan orang lain.

Ketakutan muncul dari sesuatu yang bahkan belum terjadi.

Dalam keadaan seperti ini, manusia dapat terlihat sangat aktif tetapi sebenarnya sedang kehilangan arah.

Tradisi Jawa mempunyai ungkapan yang sederhana:

Eling lan waspada.

Dua kata ini sering diterjemahkan sebagai ingat dan waspada.

Namun bagi saya, maknanya lebih dalam daripada sekadar berhati-hati terhadap bahaya.

Eling adalah kemampuan untuk kembali sadar kepada diri, tujuan, dan arah hidup.

Sedangkan waspada adalah kemampuan untuk tidak mudah menyerahkan kesadaran itu kepada apa pun yang sedang menarik, menakutkan, atau menggoda kita.

Keduanya saling menjaga.

Eling tanpa waspada dapat menjadi kesadaran yang mudah hanyut.

Waspada tanpa eling dapat berubah menjadi kecemasan dan kecurigaan.

Eling lan Waspada dalam Serat Kalatidha

Ungkapan ini mempunyai jejak yang kuat dalam sastra Jawa.

Dalam bait ketujuh Serat Kalatidha, Ranggawarsita menggambarkan keadaan yang dikenal melalui ungkapan jaman edan: keadaan ketika manusia menghadapi kebingungan, tekanan, dan godaan untuk ikut hanyut dalam arus zaman.

Di ujung bait itu muncul pengingat:

“Luwih begja kang eling lawan waspada.”

Secara ringkas: lebih beruntung orang yang tetap eling dan waspada.

Menariknya, nasihat itu tidak mengajak manusia lari dari zaman.

Tidak pula meminta kita berhenti menjalani kehidupan.

Yang dijaga justru adalah keadaan batin ketika hidup di dalam zaman tersebut.

Karena zaman dapat berubah.

Alat berubah.

Pekerjaan berubah.

Cara manusia berkomunikasi berubah.

Tetapi persoalan mendasarnya tetap serupa:

apakah kita masih mampu menjaga diri ketika lingkungan menarik kita ke berbagai arah?

Eling Bukan Sekadar Mengingat

Kata eling mudah dipahami hanya sebagai mengingat.

Namun dalam laku, saya memahaminya sebagai kembali sadar.

Sadar bahwa kita sedang marah.

Sadar bahwa kita sedang takut.

Sadar bahwa kita mulai tergesa-gesa.

Sadar bahwa kita sedang mengejar sesuatu hanya karena ingin terlihat lebih tinggi.

Sadar bahwa tubuh sedang duduk di rumah, tetapi pikiran masih berkelahi dengan seseorang yang bahkan tidak ada di depan kita.

Eling adalah momen ketika kita seperti kembali masuk ke dalam diri.

Sebelumnya kita terbawa.

Sekarang kita menyadari bahwa kita sedang terbawa.

Perbedaannya terlihat kecil.

Tetapi justru di sanalah pintu perubahan terbuka.

Selama kita tidak menyadari bahwa diri sedang hanyut, kita tidak mempunyai kesempatan untuk memilih arah.

Waspada Bukan Berarti Selalu Curiga

Ada kesalahpahaman lain.

Waspada sering dianggap sebagai sikap mencurigai segala sesuatu.

Orang ini jangan dipercaya.

Tempat itu berbahaya.

Ada energi tertentu.

Ada orang yang mungkin berniat buruk.

Bagi saya, itu bukan inti waspada.

Waspada justru pertama-tama diarahkan ke dalam diri sendiri.

Apakah penilaian saya sedang jernih?

Apakah keputusan ini lahir dari fakta?

Apakah saya sedang dikuasai keinginan?

Apakah ketakutan membuat sesuatu terlihat lebih besar daripada kenyataannya?

Apakah ego membuat saya hanya mendengar pendapat yang membenarkan diri?

Waspada bukan hidup dalam ketakutan.

Waspada adalah tidak mudah menyerahkan kendali batin kepada sesuatu yang belum kita periksa.

Eling terhadap Pikiran Sendiri

Pikiran mempunyai kemampuan luar biasa.

Ia dapat mengingat masa lalu.

Menyusun rencana.

Menghubungkan berbagai informasi.

Menciptakan kemungkinan.

Tetapi kemampuan yang sama juga dapat membuat manusia menderita karena sesuatu yang belum terjadi.

Satu pesan belum dibalas.

Pikiran mulai membuat cerita.

“Dia marah.”

“Dia tidak menghargai saya.”

“Pasti ada masalah.”

Padahal mungkin orang tersebut sedang tidur.

Di sinilah eling dibutuhkan.

Apa yang benar-benar saya ketahui?

Dan:

apa yang baru saja dibuat oleh pikiran saya sendiri?

Pertanyaan sederhana ini dapat menyelamatkan banyak energi batin.

Waspada terhadap Keinginan

Tidak semua yang kita inginkan buruk.

Keinginan membuat manusia bergerak.

Belajar.

Membangun.

Mencari kehidupan yang lebih baik.

Namun keinginan yang tidak diemong dapat berubah menjadi keadaan di mana apa pun yang dimiliki tidak pernah terasa cukup.

Mendapat satu, ingin dua.

Mendapat dua, melihat orang lain mempunyai sepuluh.

Kemudian kebahagiaan kita tidak lagi ditentukan oleh apa yang ada dalam hidup sendiri.

Ia ditentukan oleh apa yang terlihat pada hidup orang lain.

Waspada terhadap keinginan berarti mampu bertanya:

“Apakah ini benar-benar saya butuhkan, atau saya hanya sedang terbawa?”

Waspada terhadap Informasi

Zaman sekarang mempunyai ujian yang berbeda.

Seseorang dapat menerima ratusan informasi dalam satu hari.

Sebagian benar.

Sebagian salah.

Sebagian hanya potongan.

Sebagian dibuat untuk memancing emosi.

Kadang kita bahkan membagikan sesuatu sebelum membacanya secara utuh.

Kalau semua informasi langsung kita masukkan ke dalam diri tanpa penyaringan, batin menjadi seperti rumah dengan pintu terbuka.

Siapa pun dapat masuk.

Karena itu eling lan waspada juga perlu diterapkan ketika menggunakan teknologi.

Tidak semua hal yang muncul di layar harus mendapat perhatian kita.

Tidak semua perdebatan perlu dimasuki.

Tidak semua kabar perlu membuat hati berubah.

Perhatian adalah bagian dari kehidupan. Ke mana perhatian terus diberikan, ke sanalah sebagian hidup kita ikut pergi.

Eling ketika Emosi Datang

Marah tidak selalu salah.

Takut tidak selalu buruk.

Sedih bukan kelemahan.

Namun persoalan muncul ketika sebuah emosi datang lalu langsung mengambil seluruh kemudi.

Ketika marah:

semua ucapan terasa pantas dikeluarkan.

Ketika takut:

semua kemungkinan terasa seperti ancaman.

Ketika kecewa:

seluruh kebaikan seseorang dapat seolah hilang dari ingatan.

Di sinilah praktik Neng, Ning, Nung, Nang menjadi sangat dekat dengan eling lan waspada.

Neng memberi ruang.

Ning menjernihkan.

Nung meneguhkan arah.

Nang melatih kemenangan atas reaksi diri.

Eling membuat kita sadar bahwa gejolak sedang terjadi.

Waspada menjaga agar gejolak itu tidak langsung berubah menjadi tindakan.

Waspada dalam Wilayah Batin dan Mistik

Prinsip yang sama juga saya gunakan ketika berbicara tentang pengalaman batin.

Saya tidak anti terhadap firasat, mimpi, medium, ritus, atau pengalaman yang tidak mudah dijelaskan melalui indra biasa.

Namun justru karena wilayah ini halus, eling lan waspada menjadi semakin penting.

Seseorang mengalami sesuatu.

Akui dulu pengalamannya.

Tetapi jangan buru-buru memberi kesimpulan.

Sebuah mimpi belum tentu pesan.

Perasaan kuat belum tentu firasat.

Kebetulan belum tentu pertanda.

Dan pengalaman yang sulit diterangkan tidak otomatis membuat seseorang lebih tinggi daripada orang lain.

Seperti saya jelaskan dalam pembahasan Roso Sejati, roso tetap perlu melalui:

Kejernihan → Pengujian → Buah.

Semakin halus sesuatu yang kita alami, semakin besar kebutuhan kita untuk tetap rendah hati.

Eling kepada Tujuan

Ada hal lain yang sering terlupakan.

Manusia dapat sangat sibuk tetapi lupa mengapa melakukan sesuatu.

Bekerja.

Membangun usaha.

Belajar.

Membuat konten.

Menjalani laku.

Semuanya dapat berubah menjadi aktivitas tanpa arah ketika tujuan awal hilang.

Karena itu saya menyukai satu pertanyaan sederhana:

“Aku sedang melakukan ini untuk apa?”

Tidak perlu direnungkan berjam-jam.

Kadang cukup tiga puluh detik.

Sebelum bekerja.

Sebelum berbicara.

Sebelum membuka media sosial.

Sebelum mengambil keputusan.

Pertanyaan itu membuat kita kembali kepada arah.

Itulah eling.

Laku 30 Detik: Eling Sebelum Bertindak

Eling lan waspada tidak harus menjadi teori besar.

Ia dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum memulai sesuatu, berhenti sekitar tiga puluh detik.

Berhenti

Tidak perlu memejamkan mata.

Biarkan tubuh diam sebentar.

Sadari

Apa keadaan diri saat ini?

Marah?

Lelah?

Terburu-buru?

Tenang?

Ingat tujuan

Apa yang hendak dilakukan?

Untuk apa?

Periksa arah

Kalau saya menjalankan ini dalam keadaan sekarang, apakah akibatnya baik?

Kemudian lanjutkan aktivitas.

Hanya itu.

Tiga puluh detik.

Tetapi dilakukan berkali-kali, latihan sederhana ini mengajarkan manusia untuk tidak hidup sepenuhnya dalam mode otomatis.

Eling Sebelum Makan

Sebelum makan:

berhenti.

Sadari makanan yang ada.

Sadari tubuh yang menerima.

Tidak perlu ritual panjang.

Cukup ingat:

saya makan untuk merawat kehidupan yang sedang saya jalani.

Kemudian makan.

Kalau kita dapat hadir pada sesuatu sesederhana makan, perlahan kita belajar hadir pada perkara yang lebih besar.

Eling Sebelum Berkendara

Sebelum kendaraan bergerak:

periksa diri.

Sedang marah?

Mengantuk?

Terburu-buru?

Kalau iya, sadari.

Kemudian ingat tujuan:

saya ingin sampai dengan selamat tanpa merugikan diri sendiri dan orang lain.

Inilah semedi yang tidak selalu harus dilakukan dengan duduk.

Kehidupan sendiri menjadi ruang latihan.

Eling Sebelum Membalas Pesan

Ada satu kebiasaan sederhana yang sangat berguna.

Kalau membaca pesan dan dada langsung panas:

jangan langsung mengetik.

Baca.

Diam.

Kalau perlu letakkan telepon.

Beri waktu beberapa menit.

Kemudian baca kembali.

Sering kali masalah bukan terdapat pada kalimat pertama.

Masalah justru muncul pada kalimat yang kita tulis ketika sedang kehilangan eling.

Eling dan Waspada Bukan Hidup dalam Ketegangan

Laku ini jangan dibawa menjadi kecemasan baru.

Tidak perlu setiap saat bertanya:

“Apakah saya sudah cukup waspada?”

“Apakah saya salah?”

“Apakah ada bahaya?”

Itu bukan tujuan.

Keadaan yang kita cari justru lerem.

Tenang tetapi tidak lalai.

Terbuka tetapi tidak mudah hanyut.

Peka tetapi tidak mudah takut.

Percaya tetapi masih mampu memeriksa.

Inilah keseimbangan yang menurut saya indah dari eling lan waspada.

Dari Eling Menuju Luhur ing Budi

Pada akhirnya, ukuran laku bukan seberapa sering seseorang mengatakan dirinya sadar.

Buahnya terlihat dari kehidupan.

Apakah ia semakin mampu menjaga ucapan?

Apakah kekuasaan membuatnya semakin bertanggung jawab?

Apakah ilmu membuatnya semakin rendah hati?

Apakah ketika berbeda pendapat ia masih mampu melihat manusia di hadapannya?

Apakah ketika mempunyai kesempatan mengambil keuntungan dari kelemahan orang lain ia mampu menahan diri?

Di sinilah eling lan waspada bertemu dengan luhur ing budi.

Kesadaran yang tidak berubah menjadi budi masih belum selesai.

Eling terhadap Diri, Waspada terhadap Ego

Ada orang yang sangat mudah melihat kesalahan orang lain.

Tetapi sulit melihat dirinya sendiri.

Semakin banyak ilmu yang dimiliki, semakin banyak pula alasan untuk merasa paling benar.

Ini salah satu ujian perjalanan batin.

Karena itu kewaspadaan terbesar bukan selalu kepada dunia luar.

Kadang justru kepada ego yang diam-diam menggunakan ilmu sebagai pakaian baru.

Batin dapat memakai bahasa spiritual untuk menyembunyikan kesombongan.

Maka tetap eling.

Kalau merasa sudah tinggi, periksa lagi.

Kalau merasa paling tahu, dengarkan lagi.

Kalau merasa tidak mungkin salah, berhenti lagi.

Zaman Boleh Bising, Batin Tidak Harus Ikut Bising

Kita tidak dapat mengendalikan seluruh dunia.

Tidak dapat menghentikan semua berita.

Tidak dapat membuat semua orang berbicara dengan baik.

Tidak dapat memastikan kehidupan selalu berjalan sesuai keinginan.

Tetapi kita masih mempunyai ruang untuk mengolah bagaimana semua itu masuk dan hidup di dalam diri.

Inilah bagian yang dapat dilatih.

Bukan menguasai zaman.

Tetapi tidak membiarkan zaman sepenuhnya menguasai batin.

Di sinilah pesan lama terasa sangat dekat dengan kehidupan hari ini:

eling lan waspada.

Penutup

Eling berarti kembali.

Kembali sadar kepada diri.

Kembali kepada tujuan.

Kembali ketika pikiran mulai hanyut.

Kembali ketika ego mengambil alih.

Kembali ketika ketakutan membesar.

Sedangkan waspada adalah menjaga ruang kesadaran itu.

Tidak mudah mempercayai semua yang muncul.

Tidak mudah mengikuti semua keinginan.

Tidak mudah memberi makna pada semua pengalaman.

Tidak mudah menyerahkan batin kepada arus.

Eling supaya tidak kehilangan diri. Waspada supaya tidak mudah menyerahkan diri.

Keduanya tidak membuat manusia menjauh dari dunia.

Justru membuat kita lebih mampu hadir di dalamnya.

Bekerja.

Makan.

Mencintai.

Mendidik.

Belajar.

Menjalani laku.

Dan ketika zaman terasa semakin bising, mungkin kita tidak perlu ikut berteriak lebih keras.

Kadang yang dibutuhkan justru sederhana:

hening sebentar, eling kembali, kemudian berjalan dengan waspada.

Laku Setelah Membaca

Catatan di bawah ini tersimpan di perangkatmu sendiri — tidak terkirim ke mana pun, tidak terbaca siapa pun.

Checklist pemahaman

Jurnal refleksi